PEMERIKSAAN
FISIK KEPALA KE KAKI (HEAD TO TOE)
PERALATAN
- Lampu
senter
- Pinset
anatomi / chirugi
- Ophtalmoskope
- Sarung
tangan
- Otoskope
- Spatel
lidah
- Tonometer
- Kassa
steril
- Meteran
- Timbangan
berat badan
- Refleks
hammer
- Pena
/ alat tulis
- Garpu
tala
- Buku
catatan perawat /
- Spekulum
hidung
- Snellen
Cart
- Sketsel
- Selimut
TEHNIK
PEMERIKSAAN FISIK HEAD TO TOE
1.
KEPALA
INSPEKSI
a)
Bentuk
kepala klien (bulat / lonjong / benjol, besar / kecil, simetris / tidak)
-Kulit
kepala (ada luka / tidak, bersih / kotor, beruban/tidak, ada ketombe/tidak, ada
kutu/tidak)
-Rambut
Klien:
·
Penyebaran / pertumbuhan
(rata / tidak)
·
Keadaan rambut (rontok,
pecah-pecah, kusam)
·
Warna rambut (hitam,
merah, beruban, atau menggunakan cat rambut)
·
Bau rambut (berbau/tidak),
bila berbau apa penyebabnya.
-Wajah
klien:
·
Warna
kulit wajah (pucat / kemerahan / kebiruan)
·
Struktur
wajah (simetris/tidak), dan adakah kesan sembab.
PALPASI
- Ubun-ubun (datar / cekung / cembung)
- Adakah benjolan
1. MATA
- Inspeksi kelengkapan
dan kesimetrisan mata klien (lengkap / tidak simetris / tidak)
- Inspeksi dan palpasi kelopak mata / palpebra :
-
Adakah edema
-
Adakah peradangan, lesi,
dsb.
-
Adakah benjolan
-
Adakah ptosis, strabismus
-
Amati
bulu mata (rontok / tidak, kotor / bersih)
- Tarik kelopak mata bagian bawah dan amati
konjungctiva (pucat/tidak), sclera (kuning / tidak) dan adakah peradangan
pada konjunctiva (warna kemerahan)
- Inspeksi
pupil :
-
Bagaimana refleks pupil terhadap cahaya (baik / tidak)
- Apakah besarnya
sama dan bulat?
-
Pupil mengecil / melebar
- Inspeksi
kornea dan iris :
-
Adakah peradangan
- Bagaimana gerakan bola mata (normal / tidak)
- Lakukan test ketajaman penglihatan dengan
menggunakan kartu snellen dan tentukan ketajaman penglihatan klien
bandingkan dengan mata normal*)
- Ukur tekanan bola mata klien, dengan menggunakan
tonometer (bila perlu)
- Lakukan
test luas lapang panjang
2. HIDUNG
a) Amati
: Tulang
hidung dan posisi septum nasi / lubang hidung (ada pembengkakan / tidak)
b) Amati : Lubang
hidung (ada sekret / tidak, ada sumbatan / tidak, selaput lendir: kering/basah
atau lembab) kalau perlu gunakan speculum hidung untuk membuka cuping hidung.
c)
Palpasi
sinus maksilaris, frontalis dan etmoidalis (perhatikan nyeri tekan)
- TELINGA
a) Inspeksi
dan palpasi :
- Bentuk
telinga (simetris / tidak)
- Ukuran telinga (lebar / sedang / kecil)
- Ketegangan
daun telinga
b) Inspeksi
lubang pendengaran eksternal dengan cara berikut:
- Pada orang dewasa,
pegang daun telinga/ heliks dan perlahan-lahan tarik daun telinga ke atas dan
ke belakang sehingga lurus dan menjadi mudah diamatai.
- Pada anak-anak,
tarik daun telinga ke bawah.
b)
Amati
lubang telinga (kalau perlu gunakan otoskope)
- Ada
serumen / tidak
- Ada
benda asing / tidak
- Ada
perdarahan / tidak
- Membran
telinga : utuh / pecah
c) Kalau
perlu lakukan test ketajaman pendengaran Pemeriksaan pendengaran
- Menggunakan bisikan
1. Atur posisi klien membelakangi pemeriksa pada jarak
4-6 m.
2. Instruksikan klien untuk menutup salah satu telinga
yang tidak diperiksa
3. Bisikkan suatu bilangan, misal ”tujuh enam”
4. Minta klien untuk mengulangi bilangan yang didengar
5. Periksa telinga lainnya dengan cara yang sama
6. Bandingkan kemampuan mendengar telinga kanan dan kiri
klien.
- Menggunakan arloji
1. Ciptakan suasana ruangan yang tenang
2. Pegang arloji dan dekatkan ke telinga klien
3. Minta klien untuk memberi tahu pemeriksa jika ia
mendengar detak arloji
4. Pindahkan posisi arloji perlahan-lahan menjauhi telinga
dan minta klien untuk memberitahu pemeriksa jika ia tidak mendengar detak
arloji. Normalnya klien masih mendengar sampai jarak 30 cm dari telinga.
- Menggunakan garpu talla
a. Pemeriksaan Rinne
1. Pegang garpu
talla pada tangkainya dan pukulkan ke telapak tangan atau buku jari tangan yang
berlawanan
2. Letakkan
tangkai garpu talla pada prosesus mastoideus klien
3. Anjurkan klien
untuk memberi tahu pemeriksa jika ia tidak merasakan getaran lagi
4. Angkat garpu
talla dan dengan cepat tempatkan di depan lubang telinga klien 1-2 cm dengan
posisi garpu talla paralel terhadap lubang telinga luar klien
5. Instruksikan
klien untuk memberitahu apakah ia masih mendengar suara atau tidak
6. Normalnya
suaramasih terdengar, uji pada telinga sebelahnya.
7. Catat hasil
pendengaran pemeriksaan tersebut
b. Pemeriksaan Weber
1. Pegang garpu
talla pada tangkainya dan pukulkan ke telapak tangan atau buku jari tangan yang
berlawanan
2. Letakkan
tangkai garpu talla di tengah puncak kepala klien
3. Tanyakan
kepada klien apakah bunyi terdengar sama jelas pada kedua telinga atau lebih
jelas pada salah satu telinga
4. Catat hasil pemeriksaan pendengaran
tersebut.
- MULUT DAN FARING
a) Inspeksi
keadaan bibir klien:
- Cyanosis
/ tidak
- Kering
/ tidak
- Ada
luka tidak
-
Adakah labioschizis (sumbing)
b)
Inspeksi keadaan gusi dan gigi. Anjurkan klien membuka mulut:
- Normal
/ tidak (Apa kelainannya)
- Sisa-sisa
makanan (ada / tidak), jelaskan lebarnya, keadaannya sejak kapan terjadi.
- Caries
/ lubang gigi (ada / tidak), jelaskan lebarnya, keadaannya, sejak kapan
terjadi.
- Karang gigi (ada / tidak), jelaskan sumber perdarahan,
banyaknya dsb.
- Abses (ada / tidak), jelaskan sejak kapan, apa penyebabnya,
lokasinya dimana.
c) Inspeksi
keadaan lidah:
- Warna lidah (merah/putih, warna merata / tidak)
- Apakah tampak kotor, ada bercak-bercak putih/tidak.
- Normal
/ tidak.
d) Anjurkan
klien membuka mulut, kalau perlu tekan dengan menggunakan spatel lidah yang telah
dibalut kassa dan amati orofarings (rongga mulut):
- Perhatikan bau nafas (berbau / tidak)
- Ada
peradangan / tidak
- Adakah
kelainan (labiopalatoschizis)
- Ada
luka / tidak
- Perhatikan
uvula (simetris / tidak)
- Perhatikan tonsil (ada peradangan / tidak, ada pembesaran
/ tidak)
Pembesaran tonsil dinyatakan dengan
·
T 0 =
tonsil tidak ada/sudah dioperasi
·
T 1 = ukuran normal
·
T 2 = pembesaran tidak
sampai garis tengah
·
T 3 = pembesaran sampai
garis tengah
·
T 4 = pembesaran melewati
garis tengah
- Perhatikan
selaput lendir (kering / basah)
- Adakah
perubahan suara
- Adakah
dahak / lendir yang menutup
- Ada
benda asing / tidak
- LEHER
a) Inspeksi
dan palpasi :
- Posisi
trahea : simetris / tidak
- Ada
pembesaran kelenjar tiroid / tidak
b) Perhatikan
adakah perubahan suara dan cari penyebabnya
c) Inspeksi
dan palpasi:
- Adakah
pembesaran / pembengkakan kelenjar limfe (terutama pada leher, sub mandibula
dan sekitar telinga)
d) Inspeksi
dan palpasi:
- Ada
pembesaran vena jugularis / tidak
- Raba
denyut nadi carotis (bila perlu)
Pemeriksaan
mulut Area
kelenjar limfe
Pemeriksaan
kelenjar limfe Pemeriksaan tiroid
- DADA
PARU - PARU
1) Lakukan
inspeksi, tentang
- Bentuk
thoraks : apakah normal, terdapat pigeon chest, funnel chest, barrel chest
- Pernafasan
pasien: frekuensi, adanya tanda-tanda dispneu: retraksi intercostae, retraksi
suprasternal, pernafasan cuping hidung, ortopnea.
- Pola
nafas, adakah pola nafas biot, kusmaul, cheine stoke
- Cyanosis.
- Batuk: apakah produktif, kering, whooping.
2) Lakukan
Palpasi :
- Menggunakan
seluruh telapak tangan
- Tentukan
lokasi Landmarkk pd area thorax
- Mintalah
pasien menarik nafas dalam, observasi gerakan ibu jari untuk megukur ekspansi
pernafasan
- Menilai
getaran suara : VOCAL VREMITUS pada thorax anterior dan posterior
Tujuan : Membandingkan bagian mana yang lebih bergetar
atau kurang bergetar
Bergetar: terjadi pemadatan jaringan, paru seperti
pnemoni, keganasan.
Kurang bergetar: pleura effusion, pnemithoraks.
- Cara
: merasakan getaran dinding dada sewaktu klien mengucapkan “TUJUH PULUH TUJUH”
3) Lakukan
perkusi
- Cara:
tangan kiri menempel pada celah intercosta, jari tangan kanan mengetuk jari
tangan kiri. Perkusi dilakukan dengan cara membandingkan kiri dan kanan pada
permukaan thorak. Arah tangan pemeriksa dalam melakukan perkusi sama dengan
dalam melakukan palpasi.
- Perkusi
pertama dilakukan di atas klavikula
Dengarkan : apakah terjadi suara resonan (sonor). Dullnes
(pekak), timpani, hiper resonan.
Suara paru yang normal : resonan / sonor.
4) Lakukan
auskultasi
- Cara:
Anjurkan klien bernafas cukup dalam, periksa dengan stetoskop dari atas ke
bawah, bandingkan antara paru-paru kiri dan kanan.
- Dengarkan:
*) Suara nafas :
- Bronkial
/ tubular: pada trakea / leher
- Bronko
vesikuler: pada daerah percabangan bronkhus trakea (sekitar sternum)
- Vesikuler: pada semua lapangan paru.
Suara nafas ini adalah suara nafas normal.
*) Suara ucapan:
- Anjurkan
klien mengucapkan “tujuh puluh tujuh” berulang-ulang, setiap setelah inspirasi
secara berbisik dengan intonasi sama kuat.
- Dengan stetoskop dengarkan di semua lapangan paru dengan
membandingkan kiri dan kanan.
- Normal
: intensitas dan kualitas suara di kiri dan kanan sama.
- Kelainan
pada suara ucapan:
·
BRONKHOPONI : Suara
terdengar jelas ucapannya dan lebih keras dibandingkan daerah sisi lain.
·
PECTORYLOQUY : Suara
terdengar jauh, dan tidak jelas.
·
EGOPONY
: Suara bergema seperti orang yang hidungnya tersumbat (bindeng), suara
terdengar “dekat”
*) Suara tambahan
:
- Dengarkan,
apakah terdapat suara nafas tambahan pada klien, seperti rales, ronchi,
wheezing, pleural friction rub.
- Dalam keadaan normal, tidak terdapat suara nafas
tambahan.
- RALES : berupa rales halus (bunyi: merintik halus), rales
: sedang dan kasar. Rales : tidak hilang apabila klien disuruh batuk, terdengar
pada fase inspirasi.
- RONCHI: nada rendah, sangat kasar, akibat dari terkumpulnya
cairan mukus pada trachea / bronchus besar. Terdengar pada fase inspirasi dan
ekspirasi. Hilang apabila klien disuruh batuk.
- WHEEZING
: bunyi ngiii….ik / ngiiiik !!! terjadi karena eksudat lengket tertiup aliran
udara atau penyempitan bronkhus.
Terdengar pada fase inspirasi dan ekspirasi
- PLEURAL
FRICTION RUB :
Bunyi yang terdengar “kering” seperti suara gosokan
amplas pada kayu. Gesekan terjadi antara jaringan paru dengan pleura bagian
visceral.
JANTUNG
Inspeksi dan palpasi
prekordium
- Atur posisi klien terlentang dengan kepala diangkat 30-40o
- Letakkan tangan pada ruang intercosta II (area aorta dan
pulmonal), lalu amati ada atau tidaknya PULSASI. Normal
: pulsasi tidak ada.
- Geser tangan ke ruang intercosta V kiri di sisi sternum
(area tricuspid / ventrikel kanan).
Amati adanya PULSASI. Normal : pulsasi tidak ada.
- Dari
area tricuspid, geser tangan ke samping ke arah midclavicula kiri (area apical
/ PMI) = Point of Maximal Impulse.
- Amati
adanya ICTUS CORDIS (denyutan dinding thorak karena pukulan pada vertikel kiri)
Normal : Ictus Cordis berada pada ICS V pada linea
midclavicula kiri selebar 1 cm. Pembesaran jantung: Ictus Cordis bisa sampai ke
linea aksillaris anterior kiri.
PERKUSI
Perkusi jantung untuk mengetahui gambaran ukuran dan
bentuk jantung
Perkusi pada jantung menghasilkan suara redup
AUSKULTASI
Dengarkan BJ I pada :
- ICS IV linea sternalis kiri (katub I tricuspidalis)
- ICS V, linea midclavicula atau apeks (katub mitral)
Dengarkan BJ II pada :
- ICS
II linea sternalis kanan (katub II aorta)
- ICS
II linea sternalis kiri atau ICS III linea sternalis kanan (katub II pulmonal)
Dengarkan BJ III (kalau ada)
- Terdengar
di daerah mitral
- BJ
III terdengar setelah BJ II dengan jarak cukup jauh, tetapi tidak melebihi
separo dari fase diastolik, nada rendah.
- Pada
anak-anak dan dewasa muda, BJ III adalah normal
- Pada
orang dewasa / tua yang disertai tanda-tanda oedem / dispneu, BJ III merupakan
tanda ABNORMAL. BJ III pada decomp. Kiri disebut Gallop Rhythm. Gallop Rhythm
BJ III yang timbul akibat getaran derasnya pengisian diatolik dari atrium kiri
ke ventrikel kiri yang sudah membesar, darah “jatuh” ke ruang lebar, kemudian
timbul getaran.
Dengarkan adanya MURMUR (bising jantung)
Murmur adalah suara tambahan pada fase sistolik,
diastolik atau keduanya, yang disebabkan karena adanya fibrasi / getaran dalam
jantung atau pembuluh darah besar yang disebabkan oleh arus turbulensi darah.
Derajat murmur :
I.
Hampir tidak terdengar
II.
Lemah
III.
Agar keras
IV.
Keras
V.
Sangat keras
VI.
Sampai
stetoskop diangkat sedikit, masih terdengar jelas
- PERUT
1) Melakukan
inspeksi, amati adanya:
- Bentuk
abdomen (buncit ,datar)
- Benjolan / massa : bila ada benjolan, catat bentuk dan
lokasinya
- Bayangan pembuluh darah vena di kulit abdomen
2) Melalui
auskultasi, periksalah adanya:
Gunakan bagian bell stetoskop untuk mendengarkan suara
pembuluh darah dan bagian diafragma untuk mendengarkan suara usus. stau bising
usus. Suara peristaltic normal terdengar
5 – 20 kali dengan durasi sekitar 1
menit.
3)Lakukan perkusi:
1. PERKUSI BATAS HATI
1. Posisi pasien tidur terlentang dan pemeriksa
berdirilah disisi kanan pasien
2. lakukan perkusi pada garis midklavikular kanan
setinggi umbilikus, geser perlahan keatas, sampai terjadi perubahan suara dari
timpani menjadi pekak, tandai batas bawah hati tersebut.
3. Ukur jarak antara subcostae kanan kebatas bawah hati.
Batas hati bagian bawah berada ditepi batas bawah tulang
iga kanan.Batas hati bagian atas terletak antara celah tulang iga ke 5 sampai
ke 7. Jarak batas atas dengan bawah hati berkisar 6 – 12 cm dan pergerakan
bagian bawah hati pada waktu bernapas yaitu berkisar 2 – 3 sentimeter
2. PERKUSI LAMBUNG
1. Posisi pasien tidur terlentang
2. Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien
3. Lakukan perkusi pada tulang iga bagian bawah anterior
dan bagian epigastrium kiri.
4. Gelembung udara lambung bila di perkusi akan berbunyi
timpani
3. PERKUSI GINJAL
1. Posisi pasien duduk atau berdiri.
2. Pemeriksa dibelakang pasien
3. Perkusi sudut kostovertebral di garis skapular dengan
sisi ulnar tangan kanan
4. Normal perkusi tidak mengakibatkan rasa nyeri.
·
Cek ada tidaknya cairan /
ascites
- Atur
posisi pasien terlentang
- Perkusi
dimulai dari bagian tengah abdomen menuju dinding lateral abdomen. Perubahan
suara dari timpani ke dullness (pekak), merupakan batas cairan pada abdomen.
- Ubah posisi pasien ke posisi miring (cairan akan pindah
ke bawah). Lakukan perkusi pada kedua bagian lateral abdomen. Bila terdapat
cairan akan didapatkan: Daerah sisi lateral abdomen yang semula pekak akan
berubah menjadi tympani, sedangkan bagian lateral lainnya berubah menjadi
pekak. Keadaan ini disebut SHIFTING DULLNES, yaitu bunyi perkusi pekak yang
bisa dihilangkan dengan perubahan posisi.
4)Lakukan palpasi
Tujuan :
• Mengetahui ketegangan otot abdoment
• Mengetahui lokasi nyeri abdomen
• Mengetahui ukuran, kondisi, & konsistensi organ
abdominal
Normal: abdomen lembut, rectus muscle relaks dan tidak
ada keluhan ketidaknyamanan selama palpasi
Palpasi Hepar :
Letakkan tangan kiri di belakang pinggang menyangga kosta ke 11 & 12 dengan
posisi sejajar dengan kosta, ajurkan pasien untuk rileks, tangan kanan
mendorong hepar ke atas dan kedalam dengan lembut
Anjurkan pasien inspirasi dalam & rasakan sentuhan hepar saat inspirasi,
jika teraba sedikit kendorkan jari & raba permukaan anterior hepar
Normal hepar : lunak tegas, tidak berbenjol-benjol
Palpasi Lien :
o Letakkan tangan kiri menyangga & mengangkat kosta
ke 11& 12 bagian bawah sebelah kiri pasien
o Tangan kanan diletakkan di bawah arcus costa, lakukan
tekanan kearah lien
o Anjurkan pasien untuk inspirasi dalam & rasakan
sentuhan lien pada ujung jari, perhatikan apakah ada nyeri tekan, bagaimana
permukaannya, perkirakan jarak antara lien dengan batas terendah dari kosta
kiri terbawah.
Palpasi Ginjal :
a. Ginjal kanan :
Letakkan tangan kiri di pinggang pasien, paralel pada kosta ke 12, dengan ujung
jari anda menyentuh sudut kostovertebral
Angkat dan dorong ginjal kanan ke depan
Letakkan tangan kanan di kuadran kanan atas di sebelah lateral sejajar terhadap
otot rektus, anjurkan pasien untuk nafas dalam
Waktu puncak inspirasi tekanlah tangan kanan anda dalam-dalam ke kuadran kanan
atas, dibawah arcus costa & cobalah untuk ”menangkap” ginjal di kedua
tangan kanan & rasakan bagaimana ginjal kembali ke posisi waktu ekspirasi,
apabila ginjal terab tentukan ukurannya, ada tidaknya nyeri tekan
b. Ginjal kiri :
o Gunakan tangan kanan untuk menyangga & mengangkat
dari belakang
o Tangan kiri untuk meraba pada kauadran kiri atas,
lakukan pemeriksaan seperti pemeriksaan ginjal kanan
- ALAT KELAMIN
a.
Lakukan
pemeriksaan alat kelamin dan daerah sekitarnya
Siapkan posisi klien sesuai dengan kebutuhan
1)
Genetalia
laki-laki (bila klien laki-laki)
a)
Inspeksi : -Penyebaran
dan kebersihan rambut pubis
-Kulit
penis dan scrotum: adakah lecet, ulkus, lesiu, pembengkakan dan benjolan
-Lubang
urethra: adakah stenosis (penyempitan/sumbatan), adakah keluar cairan yang abnormal
(nanah, darah, dsb)
b)
Palpasi : -Adakah
tonjolan / kelainan pada penis, scrotum dan testis
- Adakah pembengkakan / peradangan pada daerah
inguinal, dan raba denyut arteri femoralis (bila perlu).
2)
Genetalia
wanita (bila klien wanita) :
a)
Inspeksi
: - Banyak
dan kebersihan rambut pubis
- Kulit sekitar pubis : adakah lesi,
erythema, lecet, keputihan, perlukaan, bisul dsb.
- Regangkan labia majora dengan
menggunakan ibu jari dan jari telunjuk kiri (yang dibungkus), kemudian amati:
bagian dalam labia majora dan minora, adakah lecet, luka dan tanda-tanda
peradangan.
- Klitoris : ada lesi / tidak
- Lubang urethra : adakah tanda-tanda
peradangan dan stenosis (sumbatan)
- Adakah perdarahan yang abnormal, dan
cari penyebabnya.
Palpasi :-Daerah inguinal (lipat
paha): adakah benjolan / pembengkakan / peradangan dan raba denyut nadi
femoralis.
- MUSKULOSKELETAL
1) Lakukan
inspeksi terhadap :
- Struktur
dan bentuk tulang leher, tulang belakang, ekstremitas atas dan bawah, amati
adakah kelainan seperti skoliosis, lordosis, kiposis, dll.
- Ukuran, tonus, kekuatan dan kesimetrisan otot
Uji Kekuatan otot
Nilai 1 : Tampak berkontraksi atau ada sedikit gerakan
dan ada tahanan sewaktu jatuh.
Nilai 2 : Mampu menahan tegak / menahan gravitasi, tapi
dengan sentuhan akan jatuh.
Nilai 3 : Mampu menahan tegak, walaupun sedikit
didorong, tapi tidak mampu melawan tekanan/ dorongan dari pemeriksa.
Nilai 4 : Seluruh gerakan otot dapat dilakukan melawan
gaya berat dan juga melawan tahanan ringan dan sedang
Nilai 5 : Seluruh gerakan dapat dilakukan otot
tersebut dengan tahanan maksimal dari pemeriksa tanpa adanya kelelahan.
- Persendian
dan pergerakan sendi (ROM)
- Pergerakan otot yang disadari atau tidak disadari
- Range
of motion dan persendian.
- Gaya jalan genu valgum (x), genu varum (o)
- Amati kesimetrisan otot: bandingkan kesimetrisan tungkai
kanan dan kiri: besar otot, panjang otot.
- INTEGUMEN
Inspeksi
1) Kebersihan
kulit pasien
2) Kelainan-kelainan
pada kulit seperti macula, erythema, pappula, vesikula, pustula, ulkus, crusta,
ekscoriasi, fissura, cicatrix, ptechie, hematoma, naevus, pigmentosus,
hiperpigmentasi, vitiligo, hemangioma, spider nevi, lichenifikasi.,
striae, uremic frost, anemi, cyanosis, ikterus.
3) Bentuk
kuku
Palpasi :
1) Kehangatan
dan kelembapan kulit
2) Turgor
kulit dengan cubitan ringan
3) Edema
- NEUROLOGI
Tingkat
kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan
dari lingkungan, tingkat kesadaran dibedakan menjadi :
- Compos Mentis
(conscious),
yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan
tentang keadaan sekelilingnya..
- Apatis,
yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya,
sikapnya acuh tak acuh.
- Delirium,
yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak,
berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.
- Somnolen
(Obtundasi, Letargi),
yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur,
namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi
jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
- Stupor (soporo
koma), yaitu keadaan
seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri.
- Coma (comatose),
yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun
(tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada
respon pupil terhadap cahaya)
Lakukan perhitungan tingkat kesadaran klien dengan
menggunakan alat: Glascow Come Scale (GCS).
a) Berapa
nilai / score untuk tanggap / reaksi mata
Nilailah 4 bila :Klien
dapat membuka mata secara spontan/tanpa disuruh
Nilailah 3 bila : Klien dapat membuka mata sesuai dengan
perintah
Nilailah 2 bila : Klien dapat membuka mata dengan rangsangan
nyeri
Nilailah 1 bila : Tidak ada reaksi sama sekali
b)
Berapa
nilai / score untuk tanggap / reaksi bicara
Nilailah 5 bila : Klien mempunyai orientasi baik, terhadap
orang, tempat, waktu.
Nilailah 4 bila : Klien dapat bicara tetapi membingungkan
(kalimat dan kata-kata baik tetapi hubungan dengan pertanyaan tidak baik).
Nilailah 3 bila : Klien dapat bicara tetapi lebih membingungkan
lagi, kalimat tidak tersusun dengan baik walau kata-katanya terbaca.
Nilailah 2 bila : Klien hanya dapat mengguman saja (masih
keluar suara / nada)
Nilailah 1 bila : Klien diam (tidak ada suara)
c) Berapa
nilai / score untuk tanggap / reaksi motorik
Nilailah 6 bila : Klien dapat mengikuti perintah dengan baik
Nilailah 5 bila : Klien dapat menjalankan perintah dan gerakan
hanya melokalisir rangsangan (menolak cubitan)
Nilailah 4 bila : Diberi rangsangan klien hanya menghindar /
tanpa penolakan
Nilailah 3 bila : Diberi rangsangan klien melakukan gerakan
refleks.
Nilailah
2 bila : Diberi rangsangan klien melakukan gerakan ekstensi saja.
Nilaiah
1 bila : Tidak ada gerakan sama sekali
1)
Tanda-tanda
rangsangan otak / meningeal sign :
- Kaku
kuduk : Untuk
memeriksa kaku kuduk dapat dilakukan sbb: Tangan pemeriksa ditempatkan dibawah
kepala pasien yang sedang berbaring, kemudian kepala ditekukan (fleksi) dan
diusahakan agar dagu mencapai dada. Selama penekukan diperhatikan adanya
tahanan. Bila terdapat kaku kuduk kita dapatkan tahanan dan dagu tidak dapat
mencapai dada. Kaku kuduk dapat bersifat ringan atau berat
- Kernig
sign
: Pada pemeriksaan ini , pasien yang sedang berbaring difleksikan pahanya pada
persendian panggul sampai membuat sudut 90°. Setelah itu tungkai bawah
diekstensikan pada persendian lutut sampai membentuk sudut lebih dari 135°
terhadap paha. Bila teradapat tahanan dan rasa nyeri sebelum atau kurang dari
sudut 135°, maka dikatakan Kernig sign positif.
- Brudzinski
I (Brudzinski’s neck sign)
Pasien berbaring dalam sikap terlentang, dengan tangan
yang ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang berbaring , tangan pemeriksa
yang satu lagi sebaiknya ditempatkan didada pasien untuk mencegah diangkatnya
badan kemudian kepala pasien difleksikan sehingga dagu menyentuh dada. Test ini
adalah positif bila gerakan fleksi kepala disusul dengan gerakan fleksi di
sendi lutut dan panggul kedua tungkai secara reflektorik.
- Brudzinski
II (Brudzinski’s contralateral leg sign)
Pasien berbaring terlentang. Tungkai yang akan dirangsang
difleksikan pada sendi lutut, kemudian tungkai atas diekstensikan pada sendi
panggul. Bila timbul gerakan secara reflektorik berupa fleksi tungkai
kontralateral pada sendi lutut dan panggul ini menandakan test ini postif.
2) Syarat
cranial (Nervus Cranialis)
a) Uji
Nervus Olfaktorius (pembau), dengan menggunakan bau-bauan (kopi, tembakau,
jeruk, minyak kayu putih) dengan cara: anjurkan klien menutup mata dan uji satu
persatu lubang hidung klien, dan anjurkan klien untuk mengidentifikasi
perbedaan bau-bauan yang diberikan.
b) Uji
Nervus Opticus (penglihatan), dengan menggunakan Snellen Chart pada jarak 5
meter, dan bila perlu periksa luas lapang pandang klien dengan cara jalankan
sebuah benda yang bersinar dari samping belakang ke depan (kiri-kanan) dan dari
atas ke bawah.
c) Uji
Nervus Oculomotorius dengan cara: tatap mata klien dan anjurkan klien untuk
menggerakkan mata dari dalam ke luar. Dan dengan menggunakan lampu senter diuji
reaksi pupil dengan memberi rangsangan sinar kedalamnya.
d) Uji
Nervus Trochlearis (gerakan bola mata) dengan cara: anjurkan klien melihat ke
bawah dan ke samping (kiri-kanan) dengan menggerak-gerakkan tangan pemeriksa.
e)
Uji
Nervus Trigenimus (sensansi kulit wajah) :
·
cabang
dari optalmikus dengan cara: anjurkan klien melihat ke atas, dengan menggunakan
kapas halus sentuhkan pada kornea samping untuk melihat refleks kornea
(perhatikan refleks berkedip klien). Dan untuk sensasi kulit wajah gunakan
kapas dan usapkan pada dahi dan paranasalis klien.
·
Cabang dari maksilaris
dengan cara: gunakan kapas sentuhkan pada wajah klien, dan uji kepekaan lidah
dan gigi.
·
Cabang dari mandibularis
dengan cara: anjurkan klien untuk menggerakkan / mengatupkan rahangnya dan
memegang giginya, dan untuk sensasi kulit wajah gunakan kapas dan sentuhkan
pada kulit wajah.
f) Uji
Nervus Abdusen (gerakan bola mata ke samping) dengan cara: anjurkan klien
melirik ke samping kiri / kanan dengan bantuan tangan perawat.
g) Uji
Nervus Facialis, dengan cara: anjurkan klien untuk tersenyum, mengangkat alis,
mengerutkan dahi, dan dengan menggunakan garam dan gula uji rasa 2/3 lidah
depan klien, dengan cara anjurkan klien menutup mata dan tempatkan pada ujung
dan sisi lidah: garam, gula, jeruk, anjurkan klien mengidentifikasi rasa
tersebut.
h) Uji
Nervus Auditorius, kalau perlu gunakan garpu tala untuk menguji pendengaran
klien. Untuk menguji keseimbangan klien anjurkan klien untuk berdiri (bila
mampu) dan menutup mata beberapa detik, perhatikan keseimbangan klien.
i)
Uji Nervus Glossoparingeal
(menelan, gerakan lidah, rasa lidah depan), dengan cara: anjurkan klien untuk
menggerakkan lidah dari sisi ke sisi, atas ke bawah secara berulang-ulang.
Untuk uji rasa, seperti di atas
j)
Uji
Nervus Vagus (sensasi farings - larings, menelan dan gerakkan pita suara),
bersamaan dengan pengujian N Ix di atas, perhatikan suara klien, adakah
perubahan.
k)
Uji
Nervus Accesarius (gerakan kepala dan bahu): Anjurkan klien untuk menggeleng
dan menoleh ke kiri – kanan, dan anjurkan klien mengangkat salah satu bahunya
ke atas dan beri tekanan pada bahu tersebut untuk mengetahui kekuatannya.
l)
Uji
Nervus Hypoglosal (tonjolan lidah): Anjurkan klien untuk menjulurkan dan
menonjolkan lidah pada garis tengah, kemudian dari sisi ke sisi.
3) Fungsi
Motorik
a) Perhatikan
/ amati: ukuran otot (ada atropi / tidak)
b) Lakukan
uji kekuatan otot-otot tungkai dan lengan dengan cara: anjurkan klien untuk
menekuk atau meluruskan lengan / tungkainya dan berikan suatu tahanan dengan
cara melawan aksi yang dilakukan klien.
c) Amati
/ perhatikan : adakah gerakan-gerakan yang tidak disadari / tidak disengaja
oleh klien.
4) Fungsi
Sensorik :
a) Anjurkan
klien menutup matanya, dan dengan menggunakan segumpal kapas, usapkan kulit:
wajah, lengan atau tungkai dan anjurkan klien untuk berespon dengan mengatakan
ya / merasa (untuk menguji syaraf perifer).
b) Anjurkan
klien menutup matanya dan dengan menggunakan peniti / benda tajam lain,
sentuhan pada kulit dan anjurkan klien untuk berespon dengan mengatakan tajam /
tumpul / atau tidak tahu (tidak merasa).
c) Dengan
menggunakan garpu tala lakukan test getaran posisi dengan cara: bunyikan garpu
tala dan tempelkan pada tulang (pergelangan kaki, lutut, sisi ibu jari sampai
pergelangan tangan dan bagian luar siku; dan juga pada tempat lain).
Anjurkan klien menutup mata dan berespon dengan
mengatakan ya / merasa ketika merasakan getaran pertama dan mengatakan tidak
merasa / telah selesai ketika getaran berhenti.
d) Dengan
menggunakan tabung yang diisi air panas dan dingin lakukan test sensasi
temperature dengan cara: anjurkan klien menutup mata dan sentuhkan tabung yang
telah diisi dengan air panas dan dingin, dan anjurkan klien berespon dengan
mengatakan: panas / dingin / tidak tahu (test ini untuk membuktikan bila
sensasi nyeri tidak normal atau tidak ada sensibilitas).
e) Dengan
menggunakan satu dan dua peniti lakukan test perbedaan ketajaman indera perasa
dengan cara: anjurkan klien menutup mata dan sentuhkan secara berulang (dengan
hati-hati) pada kulit dengan dua peniti kemudian dengan satu peniti dan
anjurkan klien mengatakan mana yang lebih tajam, satu tusukan atau dua tusukan.
5) Refleks
Kedalaman Tendon
a) Refleks
Fisiologis
1) Refleks
Pectoralis:
- Atur
lengan semi abduksi, lakukan perkusi pada lipatan tendon anterior axilla, dan
perhatikan reaksi yang terjadi.
2) Refleks
biceps:
- Atur
lengan klien dengan fleksi – pronasi, pegang siku klien dan lakukan perkusi
pada insersio Musculus Biseps Brachi, perhatikan gerakan / reaksi yang terjadi.
3) Refleks
triceps:
- Fleksikan
lengan klien pada siku dan letakkan tangan klien pada lengan bawah anda.
Lakukan perkusi pada insersio Musculus Triseps Brachi dan perhatikan gerakan /
reaksi yang terjadi.
4) Refleks
Brachiradialis:
- Letakkan
lengan bawah klien pada abdomen atau samping klien dengan rileks dan lakukan
perkusi pada radius 2-5 cm dari pergelangan, dan perhatikan gerakan / reaksi
yang terjadi.
5) Refleks
fleksor jari-jari:
- Pegang
pergelangan tangan klien, anjurkan rileks, letakkan jari-jari anda di atas
jari-jari klien, dan lakukan perkusi di atas jari-jari anda. Lihat reaksinya.
6) Refleks
patella:
- Atur
tungkai klien semi fleksi dan terayun (dangling), lakukan perkusi pada tendon
patella, dan perhatikan gerakan / reaksi yang terjadi.
7) Refleks
achiles:
- Tumit
dalam keadaan rileks dan kaki lurus (telapak kaki ditahan), lakukan perkusi
pada tendon achiles, dan perhatikan gerakan / reaksi yang terjadi.
Berikan nilai respon refleks sebagai berikut:
Nilai 0 (0) : tidak ada respon
Nilai 1 (+) : respon lemah (berkurang)
Nilai 2 (++) : aktif
(normal)
Nilai
3 (+++) : peningkatan respon (hiperaktif sedikit)
Nilai
4 (++++) : respon cepat sebentar atau kejang klonik sementara
Nilai
5 (+++++) : respon sangat cepat dengan kejang klonik yang terus menerus
b)
Refleks
patologis (bila dijumpai adanya kelumpuhan pada ekstimitas pada kasus-kasus
tertentu)
1) Refleks
babinski:
- Lakukan
penggoresan pada telapan kaki dengan menggunakan benda tumpul dari belakang
menyusuri bagian lateral dan menyeberang ke medial menuju ke ibu jari kaki.
Perhatikan reaksi yang terjadi pada ibu jari kaki.
2) Refleks
chaddock:
- Lakukan
penggoresan dengan menggunakan benda tumpul dari tepi kaki mulai dari maleolus
lateralis menuju ke kelingking dan perhatikan reaksi yang terjadi pada ibu jari
kaki.
3) Refleks
schaefner:
- Lakukan penekanan pada tendon achiles dan perhatikan
reaksi yang terjadi pada ibu jari kaki.
4) Refleks
oppenheim:
- Lakukan
penekanan dengan gerakan cepat mulai dari bawah patella sepanjang daerah
tibialis anterior media menuju ke kaki. Perhatikan reaksi yang terjadi pada ibu
jari kaki.
5) Refleks
Gordon:
- Lakukan
penekanan pada daerah musculus gastrochemius, dan perhatikan reaksi yang
terjadi pada ibu jari kaki.
6) Refleks
bing:
- Lakukan
penggoresan secara berulang-ulang pada bagian lateral / sisi luar kaki, dan
perhatikan reaksi yang terjadi pada ibu jari kaki.
7) Refleks
gonda:
- Tariklah
jari-jari kaki dengan agak cepat dan hati-hati mulai dari kelingking (kecuali
ibu jari kaki) dan perhatikan reaksi yang terjadi pada ibu jari kaki.
b. Lakukan
pemeriksaan status mental :
Perhatikan:
1) Kondisi
emosi klien / perasaan klien
- Apakah
suasana hati yang menonjol (sedih / gembira)
- Apakah
emosinya sesuai dengan ekspresi wajahnya.
2) Bagaimana
orientasi klien terhadap: orang, tempat dan waktu (sesuai / tidak) kalau ada
ketidaksesuaian sebutkan.
3) Bagaimana
proses berfikir klien, perhatikan:
- Apakah
klien mampu mengingat dengan cepat, mengingat hal-hal yang baru terjadi dan
ingatan masa lalu.
- Bagaimana
atensi / perhatikan klien terhadap lingkungan sekitarnya, dan hal-hal yang
terjadi pada dirinya.
- Bagaimana
klien bersikap bila menghadapi suatu masalah, mampukah dia mengambil keputusan
dengan baik.
- Bagaimana
kemampuan klien berkonsentrasi, anjurkan klien menyebutkan huruf-huruf secara
berurutan atau menghitung ke belakang / terbalik secara cepat atau pengurangan
tetap, misalnya: dua – dua, atau tiga – tiga.
4) Amati
kemauan / motivasi klien dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan: misal kemauan
dalam memenuhi kebutuhan dasarnya (makan, minum, perawatan dll), sesuaikah
dengan kemampuannya, kalau tidak sesuai cari penyebabnya.
5) Bagaimana
persepsi klien:
- Bagaimana
persepsi / penilaian terhadap diri sendiri (adakah perubahan dalam konsep diri
klien: gambaran diri, harga diri, ideal diri, identitas diri dan peran).
6) Bagaimana
bahasa yang digunakan oleh klien:
- Apakah
kata-kata yang diucapkan klien jelas, dan apakah klien menggunakan bahasa /
isyarat tertentu untuk mengungkapkan maksudnya, bila ada kelainan cari apa
penyebabnya.